Selat Sunda bukan sekadar jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Pulau Jawa dan Sumatra. Di balik birunya perairan tersebut, bersemayam salah satu gunung api paling legendaris sekaligus mematikan dalam sejarah peradaban manusia: Gunung Krakatau.
Ketika aktivitas vulkanik dan sebaran debu tipis kembali menjadi perbincangan masyarakat—mengingatkan kita pada dinamika geologis Selat Sunda yang tak pernah benar-benar tidur—menarik untuk menengok kembali rekam jejak panjang sang raksasa. Dari letusan purba yang meretas peta Nusantara, katastrofe global tahun 1883, hingga lahirnya Sang “Anak” yang kini meneruskan legenda sang induk.
1. Krakatau Purba (Ancient Krakatoa): Pembentuk Selat Sunda
Sebelum dunia mengenal nama Krakatau, para ahli geologi meyakini keberadaan sebuah gunung api raksasa purba (Ancient Krakatoa) yang menjulang tinggi di area yang sama.
[Krakatau Purba Raksasa] ──(Letusan Dahsyat Purba 416/535 M)──> [Kaldera Runtuh & Terisi Laut] ──> [Terbentuk Selat Sunda Modern]
Menurut beberapa catatan sejarah—termasuk naskah kuno Pustaka Raja Purwa—serta riset geologi modern, gunung purba ini mengalami letusan sangat dahsyat pada abad ke-5 atau ke-6 Masehi (sekitar tahun 416 atau 535 M). Letusan hebat ini menghancurkan tubuh gunung itu sendiri, meruntuhkan kalderanya, dan menggenangi daratan di sekitarnya. Peristiwa geologis maha dahsyat inilah yang diduga kuat memisahkan daratan Jawa dan Sumatra, sekaligus membentuk bentang alam Selat Sunda sebagaimana yang kita kenal hari ini.
Dari sisa-sisa reruntuhan kaldera purba tersebut, secara perlahan alam membangun kembali tiga pulau vulkanik kecil: Rakata, Danan, dan Perbuwatan. Ketiga pulau ini kelak menyatu membentuk satu pulau induk bernama Krakatau.
2. Tragedi 1883: Bencana Global yang Mengguncang Dunia
Setelah tertidur pulas selama hampir dua abad, pada bulan Mei 1883, Krakatau mulai menunjukkan tanda-tanda kebangkitan. Puncaknya terjadi pada tanggal 26–27 Agustus 1883, ketika Krakatau melontarkan salah satu letusan terhebat dalam sejarah tercatat manusia.
[Dua Pertiga Pulau Hancur] ➔ [Tsunami 40 Meter] ➔ [Suara Terdengar hingga Australia & Mauritius] ➔ [Suhu Global Turun 1,2°C]
Dampak letusan 1883 tidak hanya berskala lokal, melainkan mempengaruhi seluruh planet:
- Dentuman Terkeras dalam Sejarah: Suara ledakan Krakatau terdengar hingga jarak lebih dari 4.800 km—sampai ke Pulau Rodrigues dekat Mauritius dan Alice Springs di Australia.
- Gelombang Tsunami Dasyat: Runtuhnya kaldera gunung ke dalam laut memicu gelombang tsunami setinggi lebih dari 30–40 meter yang menyapu bersih ribuan pemukiman pesisir di Banten dan Lampung, menelan lebih dari 36.000 korban jiwa.
- Perubahan Iklim Global: Debu vulkanik dan gas sulfur dioksida terlempar hingga ke lapisan stratosfer (ketinggian lebih dari 80 km). Debu ini menyelimuti atmosfer bumi, membiaskan sinar matahari, dan menyebabkan suhu rata-rata global turun hingga 1,2°C selama bertahun-tahun serta menciptakan pemandangan sunset merah menyala di seluruh belahan bumi.
Peristiwa ini juga mencatatkan sejarah baru dalam media:letusan Krakatau 1883 adalah bencana alam besar pertama di dunia yang beritanya tersebar secara real-time ke seluruh benua melalui jaringan kabel telegraf bawah laut.
3. Lahirnya ‘Anak Krakatau’ (1927)
Erupsi 1883 telah menghancurkan dua pertiga tubuh Gunung Krakatau, menyisakan kaldera di bawah laut. Namun, aktivitas magma di perut bumi Selat Sunda tidak berhenti begitu saja.
[Erupsi 1883 Hancurkan Gunung] ➔ [1927: Cikal Bakal Muncul ke Permukaan] ➔ [Lahir 'Anak Krakatau']
Pada tanggal 29 Desember 1927, para nelayan dan peneliti menyaksikan munculnya gelembung gas dan endapan material vulkanik di tengah kaldera bekas letusan 1883. Dari dalam laut, lahir sebuah “gunung baru” yang kemudian diberi nama Anak Krakatau.
Anak Krakatau adalah gunung api yang sangat aktif dan tumbuh sangat cepat. Setiap tahunnya, ketinggian pulau gunung api ini bertambah sekitar 3 hingga 5 meter akibat tumpukan material erupsi yang terus-menerus dikeluarkan.
4. Dinamika Masa Kini: Erupsi 2018 dan Karakter Modern
Sebagai gunung api muda yang sedang bertumbuh, Anak Krakatau terus mengalami fase letusan berkala untuk membangun tubuhnya.
Momen paling krusial dalam sejarah modern Anak Krakatau terjadi pada 22 Desember 2018. Erupsi beruntun menyebabkan longsornya sebagian besar lereng barat daya gunung ke dalam laut. Longsoran material skala masif ini memicu tsunami di sepanjang pesisir Banten dan Lampung, serta membuat ketinggian fisik Anak Krakatau menyusut drastis dari yang semula sekitar 338 meter menjadi hanya sekitar 110 meter di atas permukaan laut.
Pasca-peristiwa 2018, Anak Krakatau memasuki fase pembentukan kembali (rebuilding phase). Erupsi-erupsi kecil berupa hembusan asap, semburan lava pijar, dan ebusan debu vulkanik yang sesekali berdampak pada wilayah sekitarnya adalah dinamika alami dari sebuah gunung api aktif yang sedang menata kembali struktur tubuhnya.
Kesimpulan
Sejarah Gunung Krakatau—dari masa purba, letusan dahsyat 1883, hingga dinamika Anak Krakatau hari ini—adalah pengingat akan dahsyatnya kekuatan alam di wilayah Ring of Fire (Cincin Api) Indonesia.
Di satu sisi, keaktifannya mengharuskan kita untuk selalu siaga, membangun sistem mitigasi bencana yang tangguh, serta memahami karakter alam sekitar. Namun di sisi lain, abu dan material vulkanik yang dikeluarkan selama ribuan tahun itulah yang menyuburkan tanah Nusantara dan membentuk keindahan bentang alam Selat Sunda yang kita saksikan hari ini.
Wallahu a’lam bish-shawab.