Di era digital saat ini, pernahkah Anda melihat seseorang yang baru membaca beberapa utas di media sosial atau artikel singkat di internet mendadak merasa lebih tahu daripada seorang dokter, ilmuwan, atau akademisi yang telah meneliti suatu bidang selama puluhan tahun?
Fenomena inilah yang dibedah secara tajam dan kritis oleh pakar hubungan internasional dan profesor dari U.S. Naval War College, Tom Nichols, dalam bukunya yang sangat fenomenal: The Death of Expertise: The Campaign Against Established Knowledge and Why It Matters (Matinya Kepakaran).
Nichols tidak sedang meratapi perubahan zaman, melainkan memberikan peringatan keras bahwa penolakan sistematis terhadap pengetahuan teruji (established knowledge) merupakan ancaman nyata bagi keberlangsungan demokrasi dan kemajuan peradaban manusia.
Lantas, apa saja gagasan utama di balik matinya kepakaran ini? Mari kita kupas secara tuntas.
1. Apa yang Dimaksud dengan “Matinya Kepakaran”?
Tom Nichols menegaskan bahwa “matinya kepakaran” bukanlah berarti orang-orang pintar atau pakar telah lenyap dari muka bumi. Sebaliknya, fenomena ini merujuk pada penolakan aktif dan pengabaian masyarakat terhadap pendapat para pakar.
Ada pergeseran berbahaya dalam budaya populer modern:
- Dulu: Orang awam menyadari ketidaktahuannya dan menghormati pandangan orang yang ahli di bidangnya.
- Sekarang: Orang awam menganggap pendapat mereka sama berbobotnya dengan pendapat para pakar, hanya karena mereka memiliki akses internet yang sama.
Nichols menyebut kondisi ini sebagai narsisme intelektual—sebuah sikap di mana kesetaraan hak politik dalam demokrasi disalahartikan sebagai “kesetaraan pengetahuan”.
2. Pemicu Utama Matinya Kepakaran
Mengapa masyarakat modern semakin sinis dan enggan mendengarkan pandangan para ahli? Nichols memetakan beberapa akar penyebab utamanya:
A. Efek Dunning-Kruger dan Bias Kognitif
- Efek Dunning-Kruger: Fenomena psikologis di mana seseorang yang kurang memiliki pengetahuan dalam suatu bidang justru merasa sangat percaya diri dan paling tahu, karena mereka tidak cukup tahu untuk menyadari betapa bodohnya mereka dalam bidang tersebut.
- Bias Konfirmasi (Confirmation Bias): Kecenderungan manusia untuk hanya mencari dan mempercayai informasi yang mendukung keyakinan pribadinya, serta mengabaikan fakta ilmiah yang bertentangan.
B. Demokratisasi Internet dan Halusinasi Informasi
Internet seharusnya menjadi perpustakaan raksasa yang mencerdaskan. Namun, internet justru berubah menjadi wadah konfirmasi bias. Algoritma media sosial mengurung masyarakat dalam ruang gema (echo chambers), tempat teori konspirasi dan misinformasi menyebar lebih cepat daripada penelitian ilmiah yang kering dan kompleks.
C. Komersialisasi Pendidikan Tinggi
Nichols mengkritik pergeseran dalam dunia pendidikan tinggi yang mulai memperlakukan mahasiswa sebagai “konsumen” (customer). Ketika prinsip “pembeli adalah raja” diterapkan di perguruan tinggi, mahasiswa cenderung enggan dikoreksi pemikirannya dan merasa bahwa pendapat mereka selalu benar tanpa perlu diuji secara ketat.
D. Jurnalisme 24 Jam dan Sensasionalisme Media
Industri media modern kerap kali demi mengejar clicks dan ratings membenturkan seorang pakar berbobot dengan tokoh kontroversial/populis yang tidak memiliki kapasitas. Hal ini menciptakan kesan keliru di mata publik seolah-olah ada “debat yang seimbang”, padahal konsensus ilmiahnya sudah bulat.
3. Pakar Juga Manusia: Mengapa Mereka Pernah Salah?
Salah satu alasan orang awam menolak pakar adalah karena para ahli pernah membuat kesalahan di masa lalu (misalnya: perubahan rekomendasi medis atau prediksi ekonomi yang meleset).
Nichols memberikan argumen rasional atas hal ini:
- Pakar Bisa Salah, Tapi Mereka Memiliki Metode: Kesalahan seorang pakar umumnya terjadi karena keterbatasan data saat itu, dan mereka memiliki metodologi ilmiah untuk mengoreksi diri (self-correcting mechanism).
- Kecelakaan vs. Kesengajaan: Kesalahan pakar ibarat seorang pilot profesional yang mengalami human error, sedangkan orang awam yang sok tahu ibarat penumpang yang tidak bisa menerbangkan pesawat tetapi nekat merebut kemudi. Siapa yang lebih berbahaya?
4. Mengapa “Matinya Kepakaran” Berbahaya Bagi Demokrasi?
Matinya kepakaran bukan sekadar perdebatan akademis, melainkan bencana bagi kehidupan bermasyarakat.
Ketika publik tidak lagi percaya pada ilmu kedokteran, wabah penyakit lama kembali merebak. Ketika publik mengabaikan saran pakar ekonomi dan hukum, kebijakan publik yang diambil oleh pemerintah akan didasarkan pada populisme emosional yang merusak masa depan negara.
Demokrasi membutuhkan rakyat yang teredukasi, dan rakyat yang teredukasi adalah mereka yang tahu kapan harus berpikir mandiri dan kapan harus mendengarkan nasihat para ahli.
5. Solusi: Bagaimana Kita Menyikapi Para Pakar?
Untuk memperbaiki hubungan yang rusak antara publik dan pakar, Nichols memberikan panduan bagi kedua belah pihak:
| Bagi Masyarakat Awam | Bagi Para Pakar / Akademisi |
| Gunakan Kerendahan Hati Intelektual: Sadari bahwa membaca beberapa artikel internet tidak membuat kita setara dengan ahli. | Gunakan Bahasa yang Membumi: Belajarlah mengomunikasikan ilmu yang rumit agar mudah dipahami publik tanpa bersikap menggurui (condescending). |
| Kritis tapi Bukan Sinis: Boleh mempertanyakan pakar, tetapi gunakan argumen dan data yang sahih, bukan asumsi. | Tetap Rendah Hati: Akui secara terbuka jika ada keterbatasan data atau jika prediksi sebelumnya mengalami kekeliruan. |
Kesimpulan
Buku The Death of Expertise karya Tom Nichols adalah cermin kritis bagi kita yang hidup di era banjir informasi. Menjadi kritis adalah hal yang baik, tetapi menolak seluruh pengetahuan yang telah teruji demi ego pribadi adalah bentuk kemunduran berpikir.
Dengan kembali menghormati kepakaran dan menyadari batas kemampuan diri, kita dapat menjadi masyarakat yang lebih bijak, rasional, dan tangguh di era digital.
Wallahu a’lam bish-shawab.